Gua baru nyelesein 2 novel karya Winna Efendi; Melbourne dan Tomodachi.
Keduanya nggak jauh dari percintaan dan persahabatan. Well, bagus banget. Meskipun latar tempat, sifat, karakternya beda jauh, tapi ada satu kesamaan yang nggak bisa di bohongi; all i think is him, still him.
Yes, him. Di Melbourne, yang gua imajinasi in dari karakter Max, itu dia. Bukan cowok tinggi gagah yang pasti beda dari dia, bukan. Begitu juga di Tomodachi, karakter Tomoki yang ceria, suka ramen dan udang, pelari hebat, kurus, dan pendek yang sama sekali nggak mirip sama 'dia' tetep aja.. Seperti menertawainya seakan Tomoki adalah mantan kekasih yang sedang gua rindukan. Bahkan, Tokyo pun seperti tempat cerita dimana gua dan dia bertemu, padahal mah harusnya Tomomi dan Tomoki hehe.
Oke nggak jelas.
Sebenernya, gua cuma mau berbagi serpihan kata yang gua 'tandai' dari kedua novel tersebut,
Melbourne:
"Buat gue, arti harfiah dari first love nggak seliteral kelihatannya. Arti sebenernya nggak muncul dari sekedar hasil pembuahan dua kata yang membentuknya: cinta dan pertama. Cinta pertama bukan debaran hati pertama yang gue rasakan saat SD, ketika cewek rumah sebelah melambai dari jendela kamarnya dan tersenyum. Bukan juga perempuan-perempuan yang menjadu gandengan gue semasa SMA. Bukan pegangan tangan pertama, bukan status pacar resmi pertama, bukan sentuhan fisik pertama.
Gue percaya definisi first love adalah rasa pertama, saat lo melihat jauh ke dalam mata seseorang, dan memutuskan bahwa masa depan dan kebahagiaan lo ada bersamanya. Cinta pertama adalah ketika untuk pertama kalinya dalan hidup lo, lo mampu nelihat segala sesuatu dengan lebih jelas, merasa lebih hidup, dan ingin jadi versi terbaik dari diri sendiri, saat dia berada di samping lo. Saat hidup lo berubah berantakan dan masih bisa berpikir, screw this mess, at least i still have you by my side.
For me, that person was Laura, althought she'll never know."
And
"You can meet someone who's just right, but he might not be meant for you. You break up, you lose things, you never feel the same again. But maybe you should stop questioning why. Maybe you should just accept it,and move on."
Tomodachi:
"Dadaku terasa sesak. Bagaimana jika aku tidak bertemu dengannya lagi, setelah hari kelulusan? Bagaimana jika hidup kami bergerak ke arah yang berbeda, tak sekali pun bertemu di tengah-tengah? Akankah aku puas hanya menyukainya diam-diam, tanpa pernah menyampaikan perasaan ini kepadanya? Apakah aku akan tetap menyimpan kenangan akan dirinya dalam ingatanku, atau dia akan memudar begitu saja?"
Dan
Tomomi: "Apakah kita harus jujur, walaupun tahu kejujuran itu akan menyakiti banyak orang?"
Ibunya: "Bukankah ketidakjujuran justru akan lebih menyakitkan bagi semuanya?"
Sudah.
Nb: It's for him, actually.
Minggu
Jumat
Sad (Maroon 5)
26..?
I'm reading our old conversation, the one that makes me even more miss you, over and over again...
Wonderin' if I really
Tried everything I could
Not knowing if I should
Try a little a harder
Ya.. Melupakan.. Hmm.. Move on? I once tried it, tapi karena emang dari awal tujuan gua bukan untuk itu.. nggak sedikitpun bisa lupa. Emangnya harus move on ya? kenapa semua orang nyuruh gua untuk 'move on'. Dude, it's not that if u break up u have to move on. Not at all. Ya kan ya?
Man it's been a long night
Just sittin' here
Trying not to look back
Still looking at the
Road we never drove on
And wonderin' if the one
I chose was the right one
I'm reading our old conversation, the one that makes me even more miss you, over and over again...
Wonderin' if I really
Tried everything I could
Not knowing if I should
Try a little a harder
Ya.. Melupakan.. Hmm.. Move on? I once tried it, tapi karena emang dari awal tujuan gua bukan untuk itu.. nggak sedikitpun bisa lupa. Emangnya harus move on ya? kenapa semua orang nyuruh gua untuk 'move on'. Dude, it's not that if u break up u have to move on. Not at all. Ya kan ya?
Gua mutusin seseorang... Ya taulah hehe. Tapi bukan untuk move on atau pindah ke orang lain (sama aja), but i told you, there's always a reason. Gua punya alasan yang lebih penting daripada move on. Salah gua sih, gua mutusin dia tapi gua masih sayang banget sama dia. Cuma karena... Maybe masalah kecil, meskipun buat gua besar. Tapi rasanya tuh..
Susah banget.. Kalo kata Nathan di Nathan & Milli "aku kira dengan mutusin kamu, aku lebih bisa fokus belajar, tapi malah sebaliknya, aku malah mikirin kamu terus" ya gitulah pokoknya. Yes that's right. Cuma diem disini, berusaha nggak mikirin dulu, berusaha tetep semangat dan berdoa biar dia juga kayak gitu. Tapi susah banget, ujungnya cuma diem, cari tau apa yang lagi dia lakuin, lagi dimana, apa yang lagi dirasain. Bahkan bolak balik ke jalan yang gua harap dia bakal lewatin, makan di tempat dulu kita sering makan, dateng ke tempat dulu kita sering kunjungin, dengerin lagu apa yang dulu sering kita dengerin, dan sekarang gua sukses jadi Secret Admirer, penggemar rahasia.
Man it's been a long night
Just sittin' here
Trying not to look back
Still looking at the
Road we never drove on
And wonderin' if the one
I chose was the right one
Note:
To You: Semalem aku mimpi, untuk kedua kalinya, aku mimpi ketemu kamu lagi. Di masa depan, kita ketemu di acara yang harus kita kunjungin. Disitu kamu diem aja, cuma aku yang berusaha. Dengan semua rasa nyesel, dan bersalah. Aku datengin kamu, aku ajak ngobrol, dan aku bilang satu kata ke kamu.. "Maaf", habis itu aku bilang kalo aku nyesel, aku salah, aku maaf banget. Dan kamu ngeluarin barang-barang dari tas kamu, barang-barang aku yang kamu pinjem, dan lain-lain yang berhubungan sama kita. Disitu, kamu secara gak langsung ngasih tau kalo kamu juga masih mikirin aku lhoo.. Meskipun banyak orang dari belakaang bilang aku kayak apatau deket deketin kamu. Tapi, di mimpi itu aku seneng banget, kamu juga, kita ketawa-ketawa lagi, senyum-senyum lagi, sama-sama lagi....
Sayangnya, cuma mimpi hehehe...
Selasa
Everything Has Changed (Taylor Swift)
26..
There's a reason why i told you we should break up. There is.
Gua baru nemu jawaban yang 'jelas' akhir akhir ini, yang lebih jelas. Setelah di pikir pikir kenapa gua ngelakuin semua yang udah gua lakuin yang emang menurut gua juga itu salah.
Apa?
Cemburu.
He told me, 5 bulan sebelum dia UN, that we shouldn't meet up. Oke, emang harusnya gitu, jadi dia bisa belajar lebih fokus. Awalnya, gua ngeluh sih, kenapa harus 5 bulan sebelum itu, but i'll try to understand.
Jadilah nggak ketemu, there's nothing like face to face with him. But the problem is.. Dia berhenti ketemuan sama gua, tapi dia malah sering juga jalan sama temen-temennya, cowo. Awalnya juga gimana gitu ya, tapi biarin lah namanya juga temen, dan kadang juga buat belajar. Tapi masalahnya lagi itu ujian praktek dan masalah lain kayak buku tahunan, perpisahan. Dia harus siapin nari, drama, dll. Dan jadilah, malah menjelang un dia sibuk banget. Sama temennya. Ada cewenya, ada kadang.
Sebelumnya dia ngomong, kalo kita berhenti ketemuan sampe dia selesai un. Gua inget banget.
D-Day. The next day. Un udah selesai. Gua udah kangen banget, banget, ga pernah ngobrol langsung sama dia selama 5 bulan itu suck. Dan sebagai cewe, gua nunggu. Nunggu diajak meet up, nggak salah kan?
Gua kira setelah dia un itu, dia bakal jadi bebas, emang harusnya gitu, nyiapin mental buat sma. But ada lagi masalahnya. Perpisahan.. Bukan wisuda.
Nari, drama, dll. Makan waktu banyak banget, hampir setiap hari setelah un dia keluar, latihan, latihan, latihan. It's ok dia kerja keras bareng temennya, tapi kenapa? Dia lupa? Seenggaknya 1 jam/2 jam buat ngajak ketemuan, makan aja lah. Di sekolah, sama temennya. Di luar, sama temennya. Dimana aja, sama temennya. Tapi temennya ya sama aja. Emang nggak bosen bentar? Emang ga puas ya?
Dan setelah un itu, dia, temen cowo dna cewenya gabungan antara 2 kelas, selalu kemana mana bareng. Begitu juga buat foto buku tahunan, dia dan temen temen yang gua bilang selalu sama itu foto-ulang, kind of foto ulang tapi individual mereka mereka aja.
Kalo misalkan begitu, gua juga pengen lah jadi temen. Daripada jadi pacar, jadi temen lebih enak banget nggak si?
Dari 5 bulan sebelum un sampai 1 bulan sesudah UN, gua udah ngerasa tertekan gitu ya.. Hehe. Tapi dia nggaktau kali ya, orang dia mah bahagia bahagia aja keluar teruss.. Dan akhirnya gua mutusin buat nunggu lagi sampe dia selesai perpisahan.
Selesai perpisahan, besoknya ulang tahun dia. But you must know. Dia sama sekali nggak pernah nawarin jalan keluar, nggak pernah.
17 Juni, gua ngajak dia keluar, udah seneng bgt, habis beli kado, terus mau makannn aja seneng bgt. Tapi.. Jam 12, tepaat 1 jam sebelum kita ketemuan, dia telfon gua-yang-lagi-bahagia ini, ga keangkat soalnya lagi mandi, eh ada sms, guess what.
Dia ngajak "aku siajak nonton nih, mau ikut aja nggak sama aku sama temen temen ku?"
Di hari pertama kita ketemu setelah gua nunggu sekian lamanya. Di hari ulang tahunnya. Di hari makan bareng yg seharuanya cuma gua sama dia... Dia ngomong, 'mau ikut'?
Nggakpapa sih sebenernya kalo kata katanya nggak gitu, kayak 'nonton aja yuk rame rame' or what.
Kebahagiaan gua akhirnya patah gitu aja. Semua yang gua pendem dari 6 bulan yg lalu keluar semua.. Kenapa harus temen, kenapa harus 'temen-yang-sama' itu dan kenapa harus ada temen cewenya lagi yang padahal sebelumnya setiap hari ketemuan.
Rasanya sakit bgt.. Dan yang jadi salah gua lagi, gua pendemin lagi. Gua bilang gua gamau ikut, dia aja sama temen temennya. Sebenernya sih kode, gua gamau ikut soalnya gua cuma pgn makan aja tapi percumalah kalo bilang. And tebak lagi dia jawab apa.
"beneran? Kamu gpp?"
....
And 'gpp' keluarlah dengan sendirinya.. But i'm not..
Gua ga bales smsnya, ga angjat telfonnya. Jam 1, gua ttp dateng ke tempat ketemuan, tanpa dia tau. Gua diem disitu, waiting for nothing. Mikir, sendiri, bahkan.. Nangis? Ditempat itu, nggak mikir mau diliatin atau apa, gua nangis.. Kenapa? Apa yang gua pikirin itu.. Ya kenapa? Apa alasannya? Gua siapa dia?
Meskipun gua juga punya harapan dia bakal dateng, meskipun gua pikir nggak mungkin. Dia nelfon nelfon, ga gua angkat, sampe akhirnya gua angkat. Gua bilang udah sana jalan aja dan gua matiin karena daripada nangis di telfon. Dan yang gua lakuin lagi adalah.. Nunggu.
Sekitar sejam an, gua yang lagi lemes tiduran di meja sambil nangis itu tiba tiba ada yang nyoel... Dia :'D
Gua liat mukanya.. keluar lagi apa yang gua pendem, semuanya, keluar tanpa sisa. Gua nangis didepan dia, and there's nothing he can do selain maaf. Hanya maaf.
Meskipun gua coba tahan, gua ucapin dia ulang tahun, gua senyum senyum terus, gua kasih kado, ttp perasaan nggak bisa diboongin. Gua nangis, lebih kejer.
Gua tanya, "nggak jadi nonton?". Dan dia bilang nanti sorean.....
Jadi kita cuma ketemuan lagi dari 6 bulan ga ketemu cuma 2 jam.
Dgn semua tekanan yg dia kasih selama ini, emang bisa ngeluarin semuanya cuma 2 jam?
Dan yang paling menakjubkaan itu dia kira gua emang gamau ikut nonton. Sebenernya kalo emang habis ketemu baru dia ajak nonton sih gpp..
Dan dari situ, setiap liat mukanya gua masih keinget sakitnya gimana jealous itu.
Dan dari situ juga, gua mulai berubah. Gua jadi lebih sering marah, lebih sering sensi, sering bosen. Kalo mau tanya kenapa.. Grgr..
Capek.
Sama semua yang udah gua lewatin, tanpa dukungan siapa siapa, tanpa ada yang tau, gua nggakbisa ngelampiasinnya gimana, gua cuma udah capek.
Come back and tell me why
I'm feeling like I've missed you all this time,
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind.
Kalo misalkan temen biasa lebih spesial daripada pacar, kenapa harus jadi temen yang spesial(pacar)?
Dari situ juga, gua udah mutusin mau ngajak dia putus. Gua mau nenangin diri, mau tenang, mau gapunya masalah yg ribet duku, atau bisa disebut trauma sementara.
Tapi blm selesai. Grgr gua mutusin dia. Semuanya nganggep gua lain. Semuanya nganggep gua berubah, nganggep gua jahat, nganggep gua tega, gua yang jadi sumber masalah. Begitu juga dia.
Capek? Banget. Makin capek. Tapi namanya org putus asa, gua makin parah sama dia. Nggakada seorangpun wkt itu dukung gua, di sisi gua, bilang kalo semuanya bakal baik baik aja, gaada.
Yang gua rencanain, cuma biar dia lupain gua, meskipun gua masih sayang bgt sama diaa.. Gua pgn dia benci sm gua. Gua masih mending suka sm dia tapi diem diem aja kali ya, daripada dia nya ikut makin sakit hati garagara sifat gua yang udah berubah. Gua juga maunya sih dia fokus dulu, fokus yang beneran.
Tapi, kalo lu mau tau kabar dia sekarang, dan hubungan gua sama dia.
Hmm..
Kalo kita, udah nggak pernah chat kok, dia juga udah ngerti kayaknya, dia udah nggak suka sama dia.
Kalo gua, gua sih masih jadi secret-admirer ;p
Dan kalo dia.. dia masih jalan sama temen-temen yang masih sama itu, hmm 1 bulan 2 kali atau lebih gitudeh.
Gua cemburu?
Masih juga..
But everything has changed...
There's a reason why i told you we should break up. There is.
Gua baru nemu jawaban yang 'jelas' akhir akhir ini, yang lebih jelas. Setelah di pikir pikir kenapa gua ngelakuin semua yang udah gua lakuin yang emang menurut gua juga itu salah.
Apa?
Cemburu.
He told me, 5 bulan sebelum dia UN, that we shouldn't meet up. Oke, emang harusnya gitu, jadi dia bisa belajar lebih fokus. Awalnya, gua ngeluh sih, kenapa harus 5 bulan sebelum itu, but i'll try to understand.
Jadilah nggak ketemu, there's nothing like face to face with him. But the problem is.. Dia berhenti ketemuan sama gua, tapi dia malah sering juga jalan sama temen-temennya, cowo. Awalnya juga gimana gitu ya, tapi biarin lah namanya juga temen, dan kadang juga buat belajar. Tapi masalahnya lagi itu ujian praktek dan masalah lain kayak buku tahunan, perpisahan. Dia harus siapin nari, drama, dll. Dan jadilah, malah menjelang un dia sibuk banget. Sama temennya. Ada cewenya, ada kadang.
Sebelumnya dia ngomong, kalo kita berhenti ketemuan sampe dia selesai un. Gua inget banget.
D-Day. The next day. Un udah selesai. Gua udah kangen banget, banget, ga pernah ngobrol langsung sama dia selama 5 bulan itu suck. Dan sebagai cewe, gua nunggu. Nunggu diajak meet up, nggak salah kan?
Gua kira setelah dia un itu, dia bakal jadi bebas, emang harusnya gitu, nyiapin mental buat sma. But ada lagi masalahnya. Perpisahan.. Bukan wisuda.
Nari, drama, dll. Makan waktu banyak banget, hampir setiap hari setelah un dia keluar, latihan, latihan, latihan. It's ok dia kerja keras bareng temennya, tapi kenapa? Dia lupa? Seenggaknya 1 jam/2 jam buat ngajak ketemuan, makan aja lah. Di sekolah, sama temennya. Di luar, sama temennya. Dimana aja, sama temennya. Tapi temennya ya sama aja. Emang nggak bosen bentar? Emang ga puas ya?
Dan setelah un itu, dia, temen cowo dna cewenya gabungan antara 2 kelas, selalu kemana mana bareng. Begitu juga buat foto buku tahunan, dia dan temen temen yang gua bilang selalu sama itu foto-ulang, kind of foto ulang tapi individual mereka mereka aja.
Kalo misalkan begitu, gua juga pengen lah jadi temen. Daripada jadi pacar, jadi temen lebih enak banget nggak si?
Dari 5 bulan sebelum un sampai 1 bulan sesudah UN, gua udah ngerasa tertekan gitu ya.. Hehe. Tapi dia nggaktau kali ya, orang dia mah bahagia bahagia aja keluar teruss.. Dan akhirnya gua mutusin buat nunggu lagi sampe dia selesai perpisahan.
Selesai perpisahan, besoknya ulang tahun dia. But you must know. Dia sama sekali nggak pernah nawarin jalan keluar, nggak pernah.
17 Juni, gua ngajak dia keluar, udah seneng bgt, habis beli kado, terus mau makannn aja seneng bgt. Tapi.. Jam 12, tepaat 1 jam sebelum kita ketemuan, dia telfon gua-yang-lagi-bahagia ini, ga keangkat soalnya lagi mandi, eh ada sms, guess what.
Dia ngajak "aku siajak nonton nih, mau ikut aja nggak sama aku sama temen temen ku?"
Di hari pertama kita ketemu setelah gua nunggu sekian lamanya. Di hari ulang tahunnya. Di hari makan bareng yg seharuanya cuma gua sama dia... Dia ngomong, 'mau ikut'?
Nggakpapa sih sebenernya kalo kata katanya nggak gitu, kayak 'nonton aja yuk rame rame' or what.
Kebahagiaan gua akhirnya patah gitu aja. Semua yang gua pendem dari 6 bulan yg lalu keluar semua.. Kenapa harus temen, kenapa harus 'temen-yang-sama' itu dan kenapa harus ada temen cewenya lagi yang padahal sebelumnya setiap hari ketemuan.
Rasanya sakit bgt.. Dan yang jadi salah gua lagi, gua pendemin lagi. Gua bilang gua gamau ikut, dia aja sama temen temennya. Sebenernya sih kode, gua gamau ikut soalnya gua cuma pgn makan aja tapi percumalah kalo bilang. And tebak lagi dia jawab apa.
"beneran? Kamu gpp?"
....
And 'gpp' keluarlah dengan sendirinya.. But i'm not..
Gua ga bales smsnya, ga angjat telfonnya. Jam 1, gua ttp dateng ke tempat ketemuan, tanpa dia tau. Gua diem disitu, waiting for nothing. Mikir, sendiri, bahkan.. Nangis? Ditempat itu, nggak mikir mau diliatin atau apa, gua nangis.. Kenapa? Apa yang gua pikirin itu.. Ya kenapa? Apa alasannya? Gua siapa dia?
Meskipun gua juga punya harapan dia bakal dateng, meskipun gua pikir nggak mungkin. Dia nelfon nelfon, ga gua angkat, sampe akhirnya gua angkat. Gua bilang udah sana jalan aja dan gua matiin karena daripada nangis di telfon. Dan yang gua lakuin lagi adalah.. Nunggu.
Sekitar sejam an, gua yang lagi lemes tiduran di meja sambil nangis itu tiba tiba ada yang nyoel... Dia :'D
Gua liat mukanya.. keluar lagi apa yang gua pendem, semuanya, keluar tanpa sisa. Gua nangis didepan dia, and there's nothing he can do selain maaf. Hanya maaf.
Meskipun gua coba tahan, gua ucapin dia ulang tahun, gua senyum senyum terus, gua kasih kado, ttp perasaan nggak bisa diboongin. Gua nangis, lebih kejer.
Gua tanya, "nggak jadi nonton?". Dan dia bilang nanti sorean.....
Jadi kita cuma ketemuan lagi dari 6 bulan ga ketemu cuma 2 jam.
Dgn semua tekanan yg dia kasih selama ini, emang bisa ngeluarin semuanya cuma 2 jam?
Dan yang paling menakjubkaan itu dia kira gua emang gamau ikut nonton. Sebenernya kalo emang habis ketemu baru dia ajak nonton sih gpp..
Dan dari situ, setiap liat mukanya gua masih keinget sakitnya gimana jealous itu.
Dan dari situ juga, gua mulai berubah. Gua jadi lebih sering marah, lebih sering sensi, sering bosen. Kalo mau tanya kenapa.. Grgr..
Capek.
Sama semua yang udah gua lewatin, tanpa dukungan siapa siapa, tanpa ada yang tau, gua nggakbisa ngelampiasinnya gimana, gua cuma udah capek.
Come back and tell me why
I'm feeling like I've missed you all this time,
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind.
Kalo misalkan temen biasa lebih spesial daripada pacar, kenapa harus jadi temen yang spesial(pacar)?
Dari situ juga, gua udah mutusin mau ngajak dia putus. Gua mau nenangin diri, mau tenang, mau gapunya masalah yg ribet duku, atau bisa disebut trauma sementara.
Tapi blm selesai. Grgr gua mutusin dia. Semuanya nganggep gua lain. Semuanya nganggep gua berubah, nganggep gua jahat, nganggep gua tega, gua yang jadi sumber masalah. Begitu juga dia.
Capek? Banget. Makin capek. Tapi namanya org putus asa, gua makin parah sama dia. Nggakada seorangpun wkt itu dukung gua, di sisi gua, bilang kalo semuanya bakal baik baik aja, gaada.
Yang gua rencanain, cuma biar dia lupain gua, meskipun gua masih sayang bgt sama diaa.. Gua pgn dia benci sm gua. Gua masih mending suka sm dia tapi diem diem aja kali ya, daripada dia nya ikut makin sakit hati garagara sifat gua yang udah berubah. Gua juga maunya sih dia fokus dulu, fokus yang beneran.
Tapi, kalo lu mau tau kabar dia sekarang, dan hubungan gua sama dia.
Hmm..
Kalo kita, udah nggak pernah chat kok, dia juga udah ngerti kayaknya, dia udah nggak suka sama dia.
Kalo gua, gua sih masih jadi secret-admirer ;p
Dan kalo dia.. dia masih jalan sama temen-temen yang masih sama itu, hmm 1 bulan 2 kali atau lebih gitudeh.
Gua cemburu?
Masih juga..
But everything has changed...
Senin
25 Agustus 2014
"Meskipun suka, tapi nggak berarti kita harus setiap saat kagum sama dia kan? "
Apa yang gua pelajari hari ini, seberat apa pun masalah yang lu hadapi, semarah-marah nya kita, se benci-benci nya kita sama seseorang, pasti makin parah, kalau nggak diambil positive.
Sama halnya kayak masa lalu kita. Coba inget, contoh: benci banget gara gara pacar ngelakuin sesuatu yang kita nggak suka sampe akhirnya putus. Coba diperbaikin, kalo misalkan kita bisa sedikit ngerti, kenapa dia ngelakuin itu, terus bilang kalo kita nggak suka, apalagi kalo diulang, terus berfikir tentang hal-hal yang positive. Beres.
Tapi gua juga baru bisa berpikir all-positive kalo emang orang itu punya alasan, kalo pun nggak punya harusnya sih gua bisa aja ya mikir kenapa dia blabla dengan pikiran positif, tapi dengan sifat gua yang kayak gini, susah banget buat nenangin otak yang lagi marah sendirian. Capek, nggak ada orang yang bisa gua ceritain masalah gua semua. Kecuali.... dia?
Apa yang gua pelajari hari ini, seberat apa pun masalah yang lu hadapi, semarah-marah nya kita, se benci-benci nya kita sama seseorang, pasti makin parah, kalau nggak diambil positive.
Sama halnya kayak masa lalu kita. Coba inget, contoh: benci banget gara gara pacar ngelakuin sesuatu yang kita nggak suka sampe akhirnya putus. Coba diperbaikin, kalo misalkan kita bisa sedikit ngerti, kenapa dia ngelakuin itu, terus bilang kalo kita nggak suka, apalagi kalo diulang, terus berfikir tentang hal-hal yang positive. Beres.
Tapi gua juga baru bisa berpikir all-positive kalo emang orang itu punya alasan, kalo pun nggak punya harusnya sih gua bisa aja ya mikir kenapa dia blabla dengan pikiran positif, tapi dengan sifat gua yang kayak gini, susah banget buat nenangin otak yang lagi marah sendirian. Capek, nggak ada orang yang bisa gua ceritain masalah gua semua. Kecuali.... dia?
Langganan:
Komentar (Atom)