Gua baru nyelesein 2 novel karya Winna Efendi; Melbourne dan Tomodachi.
Keduanya nggak jauh dari percintaan dan persahabatan. Well, bagus banget. Meskipun latar tempat, sifat, karakternya beda jauh, tapi ada satu kesamaan yang nggak bisa di bohongi; all i think is him, still him.
Yes, him. Di Melbourne, yang gua imajinasi in dari karakter Max, itu dia. Bukan cowok tinggi gagah yang pasti beda dari dia, bukan. Begitu juga di Tomodachi, karakter Tomoki yang ceria, suka ramen dan udang, pelari hebat, kurus, dan pendek yang sama sekali nggak mirip sama 'dia' tetep aja.. Seperti menertawainya seakan Tomoki adalah mantan kekasih yang sedang gua rindukan. Bahkan, Tokyo pun seperti tempat cerita dimana gua dan dia bertemu, padahal mah harusnya Tomomi dan Tomoki hehe.
Oke nggak jelas.
Sebenernya, gua cuma mau berbagi serpihan kata yang gua 'tandai' dari kedua novel tersebut,
Melbourne:
"Buat gue, arti harfiah dari first love nggak seliteral kelihatannya. Arti sebenernya nggak muncul dari sekedar hasil pembuahan dua kata yang membentuknya: cinta dan pertama. Cinta pertama bukan debaran hati pertama yang gue rasakan saat SD, ketika cewek rumah sebelah melambai dari jendela kamarnya dan tersenyum. Bukan juga perempuan-perempuan yang menjadu gandengan gue semasa SMA. Bukan pegangan tangan pertama, bukan status pacar resmi pertama, bukan sentuhan fisik pertama.
Gue percaya definisi first love adalah rasa pertama, saat lo melihat jauh ke dalam mata seseorang, dan memutuskan bahwa masa depan dan kebahagiaan lo ada bersamanya. Cinta pertama adalah ketika untuk pertama kalinya dalan hidup lo, lo mampu nelihat segala sesuatu dengan lebih jelas, merasa lebih hidup, dan ingin jadi versi terbaik dari diri sendiri, saat dia berada di samping lo. Saat hidup lo berubah berantakan dan masih bisa berpikir, screw this mess, at least i still have you by my side.
For me, that person was Laura, althought she'll never know."
And
"You can meet someone who's just right, but he might not be meant for you. You break up, you lose things, you never feel the same again. But maybe you should stop questioning why. Maybe you should just accept it,and move on."
Tomodachi:
"Dadaku terasa sesak. Bagaimana jika aku tidak bertemu dengannya lagi, setelah hari kelulusan? Bagaimana jika hidup kami bergerak ke arah yang berbeda, tak sekali pun bertemu di tengah-tengah? Akankah aku puas hanya menyukainya diam-diam, tanpa pernah menyampaikan perasaan ini kepadanya? Apakah aku akan tetap menyimpan kenangan akan dirinya dalam ingatanku, atau dia akan memudar begitu saja?"
Dan
Tomomi: "Apakah kita harus jujur, walaupun tahu kejujuran itu akan menyakiti banyak orang?"
Ibunya: "Bukankah ketidakjujuran justru akan lebih menyakitkan bagi semuanya?"
Sudah.
Nb: It's for him, actually.